Culture Shock Jepang: Biasa di Indonesia Tapi Tidak Ada di Jepang

Bagi wisatawan Indonesia yang pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, seringkali ada kejutan budaya atau "culture shock" yang dialami.

Jepang adalah salah satu destinasi wisata favorit bagi traveler Indonesia. Negara ini menawarkan perpaduan sempurna antara tradisi kuno yang kaya dengan teknologi modern yang canggih. Namun, bagi wisatawan Indonesia yang pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, seringkali ada kejutan budaya atau “culture shock” yang dialami. Banyak hal yang dianggap biasa dan lumrah di Indonesia ternyata tidak ada atau bahkan dianggap aneh di Jepang.

Memahami perbedaan budaya ini penting agar Anda bisa menikmati perjalanan dengan lebih nyaman dan menghindari kesalahpahaman yang tidak perlu. Artikel ini akan membahas berbagai aspek budaya yang menjadi pembeda antara Indonesia dan Jepang, sehingga Anda bisa lebih siap saat mengunjungi Negeri Sakura ini.

Budaya Antre yang Sangat Tertib

Salah satu hal pertama yang akan Anda perhatikan saat berada di Jepang adalah betapa tertibnya masyarakat dalam hal antre. Baik di stasiun kereta, supermarket, restoran, atau bahkan di toilet umum, orang Jepang selalu membuat antrean yang rapi dan tertib tanpa perlu diawasi.

Di Indonesia, kita sering melihat orang mencoba “maju duluan” atau “nyeprit” antrean, terutama di tempat-tempat umum yang ramai. Padahal, di Jepang, perilaku seperti ini dianggap sangat tidak sopan dan bisa membuat Anda mendapatkan pandangan negatif dari orang sekitar.

Beberapa contoh budaya antre di Jepang:

  • Di stasiun kereta, penumpang akan membuat antrean lurus di samping pintu kereta dan menunggu dengan sabar sampai penumpang di dalam kereta keluar semua sebelum masuk.
  • Di eskalator, orang akan berdiri di satu sisi (biasanya sisi kiri di Tokyo dan sisi kanan di Osaka) untuk memberi ruang bagi orang yang ingin berjalan cepat.
  • Di restoran atau toko, pelanggan akan membuat antrean teratur tanpa perlu garis pembatas, bahkan di luar ruangan jika perlu.
Suasana antri di Jepang
Orang Jepang membuat antrean yang tertib di stasiun kereta

Tips untuk beradaptasi:

  • Selalu cari ujung antrean dan ikuti dengan sabar
  • Jangan mencoba menyelinap atau maju tanpa izin
  • Jika ragu, tanyakan kepada orang di sekitar Anda dengan sopan
  • Ingat bahwa “siapa cepat dia dapat” tidak berlaku di Jepang

Tidak Ada Uang Tip (Bahkan di Restoran Halal)

Di Indonesia, memberikan uang tip adalah hal yang biasa, terutama di restoran, hotel, atau saat menggunakan jasa tour guide. Bahkan, ada beberapa tempat yang secara eksplisit mengharapkan tip dari pelanggan. Namun, di Jepang, budaya memberikan uang tip hampir tidak ada sama sekali.

Memberikan uang tip di Jepang justru bisa dianggap tidak sopan atau membingungkan bagi penerima. Hal ini karena budaya kerja di Jepang mengutamakan pelayanan terbaik sebagai bagian dari tanggung jawab pekerjaan, bukan sesuatu yang perlu dihargai dengan tambahan uang.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Di restoran, termasuk restoran halal, Anda tidak perlu memberikan tip kepada pelayan
  • Di hotel, bellboy atau housekeeping tidak mengharapkan tip
  • Di taksi, sopir akan mengembalikan uang kelebihan dengan teliti, bahkan hanya beberapa yen saja
  • Jika Anda meninggalkan uang di meja setelah makan, staf mungkin akan mengejar Anda untuk mengembalikan uang yang “tertinggal”

Tips untuk beradaptasi:

  • Jangan memberikan uang tip dalam bentuk apapun
  • Jika ingin menunjukkan apresiasi, ucapkan terima kasih dengan tulus dalam Bahasa Jepang (“Arigatou gozaimasu”)
  • Untuk pelayanan yang luar biasa, katakan pujian secara verbal (“Oishii desu” untuk makanan yang enak)
  • Di beberapa tempat wisata tertentu, memberikan sumbangan di kotak amal lebih disarankan daripada memberikan tip langsung

Minim Kontak Fisik dan Percakapan di Publik

Masyarakat Indonesia cenderung terbuka dalam hal kontak fisik dan percakapan di tempat umum. Kita sering melihat orang berjabat tangan, berpelukan, atau bahkan menyentuh orang lain saat berbicara. Di Jepang, hal ini sangat berbeda.

Orang Jepang cenderung menjaga jarak pribadi yang cukup besar dan menghindari kontak fisik yang tidak perlu, terutama dengan orang yang baru dikenal. Budaya ini semakin diperkuat setelah pandemi COVID-19, di mana kesadaran akan jarak fisik menjadi lebih tinggi.

Beberapa contoh perbedaan dalam hal kontak fisik dan percakapan:

  • Orang Jepang jarang berjabat tangan saat berkenalan, mereka lebih sering membungkuk (bowing)
  • Di tempat umum seperti kereta atau bus, orang cenderung diam dan menghindari percakapan yang bisa mengganggu orang lain
  • Volume suara saat berbicara di tempat umum biasanya lebih rendah dibandingkan di Indonesia
  • Kontak mata yang terlalu lama bisa dianggap tidak sopan, terutama dengan orang yang lebih tua atau memiliki posisi lebih tinggi
Suasana kereta di Jepang
Orang Jepang di kereta umum yang cenderung diam dan menjaga jarak

Tips untuk beradaptasi:

  • Hindari kontak fisik yang tidak perlu, terutama dengan orang yang baru dikenal
  • Jaga volume suara saat berbicara di tempat umum
  • Jika ingin berjabat tangan, tunggu hingga orang Jepang mengulurkan tangan terlebih dahulu
  • Gunakan bahasa tubuh yang lebih tenang dan tidak berlebihan
  • Saat di kereta atau transportasi publik lainnya, hindari menelepon atau berbicara dengan suara keras

Toilet Umum yang Bersih dan Canggih, Tapi Tidak Semua Tersedia di Mana-mana

Indonesia dikenal dengan masalah toilet umum yang seringkali kurang bersih dan terawat. Banyak wisatawan Indonesia yang akan terkesan dengan kondisi toilet umum di Jepang yang sangat bersih, higienis, dan dilengkapi dengan teknologi canggih.

Toilet di Jepang biasanya dilengkapi dengan:

  • Bidet dengan fungsi cuci dan kering otomatis
  • Pengatur suhu dudukan toilet
  • Suara “masking” untuk menutupi suara buang air
  • Sensor otomatis untuk flush dan keran air

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Tidak semua toilet umum di Jepang dilengkapi dengan teknologi canggih, terutama di tempat-tempat tua atau di luar kota besar
  • Beberapa toilet umum tradisional (squatter toilet) masih ada, terutama di stasiun kereta yang lebih tua atau di tempat wisata tradisional
  • Tidak semua toilet menyediakan tissue atau sabun, jadi selalu bawa tissue basah dan hand sanitizer
  • Toilet umum di Jepang seringkali tidak memiliki tempat sampah di dalam bilik karena sistem pipa yang dirancang khusus

Tips untuk beradaptasi:

  • Selalu bawa tissue basah dan hand sanitizer
  • Gunakan aplikasi seperti “Japan Travel by NAVITIME” untuk menemukan toilet umum terdekat
  • Jika ragu bagaimana menggunakan toilet canggih, perhatikan tombol dengan simbol yang jelas atau tanyakan dengan sopan
  • Buang tissue bekas pakai di tempat sampah yang tersedia, jangan di flush karena bisa menyebabkan penyumbatan

Tidak Ada Suara Azan atau Musik Religi di Tempat Umum

Di Indonesia, kita sangat terbiasa mendengar suara azan dari masjid atau musala, terutama saat waktu sholat tiba. Bahkan di pusat perbelanjaan atau tempat umum lainnya, seringkali ada musik religi yang diputar. Di Jepang, Anda tidak akan menemukan hal ini.

Jepang adalah negara sekuler dengan mayoritas penduduk menganut agama Buddha dan Shinto. Meskipun ada kebebasan beragama, ekspresi keagamaan di ruang publik sangat minimal. Anda tidak akan mendengar suara azan, musik religi, atau pengumuman keagamaan di tempat umum.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Tidak ada pengumuman sholat di tempat umum, jadi Anda perlu mengandalkan alarm atau aplikasi sholat
  • Masjid di Jepang jumlahnya sangat terbatas dan biasanya hanya ada di kota-kota besar
  • Tempat sholat umum jarang tersedia, jadi Anda perlu mencari ruangan yang tenang dan tersembunyi jika harus sholat di tempat umum
  • Saat bulan Ramadhan, tidak ada suasana khusus seperti di Indonesia di mana banyak tempat yang menyediakan menu berbuka puasa

Tips untuk beradaptasi:

  • Download aplikasi sholat yang bisa bekerja offline
  • Rencanakan sholat sebelum meninggalkan hotel atau penginapan
  • Bawa sajadah lipat dan mukena jika memungkinkan
  • Cari informasi tentang masjid atau tempat sholat terdekat sebelum bepergian
  • Jika harus sholat di tempat umum, cari ruangan yang sepi seperti ruang ganti di department store atau ruang istirahat di stasiun kereta